Connect with us

Dakwaan Tak Terbukti, Saracen Balik Arah

Hukum

Dakwaan Tak Terbukti, Saracen Balik Arah

Oleh: Asyari Usman*

Hari Jumat kemarin (6 April 2018), sebuah “bom penghancur kredibilitas” jatuh di Mabes Polri. “Bom” itu adalah putusan Pengadilan Negeri Pekanbaru bahwa dakwaan jaksa tentang Saracen yang disebut-sebut sebagai mesin penyebar ujaran kebencian, dinyatakan tidak terbukti. Yang menjadi “bintang” kasus yang sempat menggemparkan itu, yakni Jasriadi, dihukum 10 bulan penjara karena mengakses akun Sri Rahayu Ningsih secara ilegal.

Tak kurang Presiden Jokowi sendiri sempat bereaksi overdosis dengan menggunakan kata “mengerikan” tentang Saracen. Dan memang dramatis sekali cerita yang dibangun oleh Polisi mengenai operasi “pabrik fitnah” yang akhirnya tak terbukti itu. Ini kata Pak Jokowi seperti dikutip oleh Kompas.com:

==[[JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo menilai, kelompok Saracen yang menyebarkan hoaks di dunia maya sangat mengerikan dan harus segera diungkap sampai ke akar-akarnya oleh pihak kepolisian. “Individu saja sangat merusak kalau informasinya itu tidak benar, bohong apalagi fitnah. Apalagi yang terorganisasi ini mengerikan sekali. Kalau dibiarkan mengerikan,” kata Jokowi di silang Monas, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Artikel ini telah tayang di Kompas..com dengan judul “Jokowi: Saracen Mengerikan, Saya Perintahkan Kapolri Usut Tuntas”, https://nasional.kompas,com/read/2017/08/27/18501421/jokowi-saracen-mengerikan-saya-perintahkan-kapolri-usut-tuntas.
Penulis : Ihsanuddin]]==

(Note: “titik” di alamat URL di atas diganti menjadi “koma” agar tidak muncul di Wall.)

Putusan majelis hakim PN Pekanbaru ini pastilah sangat memalukan. Tentunya bagi orang yang memiliki rasa malu. Bagi yang tebal muka, mereka anggap biasa saja.

Memalukan, karena kredibitas pimpinan Polri menjadi hancur berserakan. Betapa tidak! Semua orang besar di Polri waktu itu sangat bersemangat untuk membongkar jaringan yang “mengerikan”. Apalagi, oleh berbagai pihak, kegiatan jahat jaringan itu dikesan-kesankan terkait dengan umat Islam, khususnya kaum muslimin yang menunjukkan sikap kritis terhadap penguasa.

Sekarang, penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Polri tentang Saracen yang “mengerikan” itu dan kemudian dilanjutkan dengan tuntutan jaksa di pengadilan, dianggap “omong kosong” oleh majelis hakim. Jasriadi dinyatakan tak terbutki menerima pesanan penyebaran ujaran kebencian dengan upah ratusan juta rupiah. Juga tak terbutki membuat 800,000 akun anonim.

Bukankah ini berarti bahwa kasus Saracen adalah isu yang dipaksakan? Yaitu dipaksakan guna mendapatkan pembenaran (justifikasi) bahwa memang ada operasi besar-besaran untuk menjelek-jelekkan penguasa melalui “pabrik fitnah” yang disebut Saracen.

Meskipun tidak terbukti, kasus Saracen telah menimbulkan goresan di kalangan publik. Menurut hemat saya, kasus ini sedikit-banyak menimbulkan macam-macam perasaan negatif, terutama di kalangan umat Islam. Ada rasa tersinggung, ada rasa malu, ada rasa sedih, ada rasa “helpless” (tak berdaya), dlsb. Sebab, secara kebetulan para “pelaku” Saracen yang ditangkap polisi adalah orang Islam. Serasa umat Islam menjadi tertuduh, tersangka, dan menjadi terdakwa.

Saya yakin, banyak kaum muslimin yang menangis, yang marah, yang sedih, dan yang juga malu disebabkan isu Saracen. Waktu itu banyak orang, terutama dari kubu penguasa, yang mengucapkan labelisasi jelek terhadap orang-orang yang dikatakan terlibat jaringan yang “mengerikan” ini. Sekali lagi, orang-orang yang terlibat itu adalah orang Islam.

Hari ini, kaum muslimin bersujud syukur. Bersyukur karena yang “mengerikan” itu ternyata bukanlah Saracen, melainkan cara kerja Polisi. Yang “mengerikan” itu adalah imajinasi yang berkembang dalam penyelidikan.

Yang “mengerikan” itu adalah nafsu untuk membuktikan keberadaan Saracen sebagai “mesin kebencian”. Keinginan yang menggebu-gebu untuk mensaracenkan yang bukan Saracen.

Hari ini, pimpinan Polri pantas merenung. Klaim “kami profesional”, menjadi tidak klop. Putusan PN Pekanbaru perlu direnungkan karena Sacaren bukan isu kecil. Saracen hampir-hampir menyeret tokoh-tokoh yang tak bersalah, yang selama ini hanya mengambil posisi yang berseberangan dengan penguasa. Waktu itu, saya berpikir: “Sebegitu burukkah kelakuan oknum-oknum Islam dalam beroposisi?” Haruskah menyebar kebencian dan fitnah dengan cara Saracen untuk menghentikan kesewenangan penguasa?

Alhamdulillah, semua itu tak terbukti di pengadilan. Semua tuduhan yang “mengerikan” itu meleleh dengan sendirinya. Dengan kuasa Allah SWT, tentunya.

Hari ini, Saracen balik gagang. Balik arah. Dia kembali ke arah yang melemparkan bumerang. Tidak hanya kredibilitas pimpinan Polri yang sedang digugat, tetapi juga seluruh ruang kerja penguasa sedang dilanda “gempa” 10 Richter.

Bagi Presiden Jokowi, satu-satunya cara untuk tidak merasakan guncangan gempa kuat itu ialah dengan naik pesawat terbang. Dan, hanya ada satu penerbangan reguler yang tersedia yaitu pesawat dengan nomor Flight GP-2019.

Kalau mau penerbangan khusus (bukan reguler), tentu bisa dicarikan. [swamedium.com]

*(Penulis adalah wartawan senior)

Loading...

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Hukum

Gabung Grup Telegram

Trending

Politik

Khazanah

Hukum

To Top
%d blogger menyukai ini: