Connect with us

Jelang 2019, Prabowo Mulai Ditinggalkan Elite Nasionalis Karena Mendukung Kelompok Islam?

Nasional

Jelang 2019, Prabowo Mulai Ditinggalkan Elite Nasionalis Karena Mendukung Kelompok Islam?

ISLAMINEWS – Jelang 2019, Prabowo Mulai Ditinggalkan Elite Nasionalis Karena Mendukung Kelompok Islam? – Banyak orang memperkirakan, pertarungan di ajang pemilihan presiden (Pilpres) 2019 akan mengulang Pilpres 2014, yakni Presiden Joko Widodo akan berhadapan lagi dengan mantan Danjen Kopassus yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Namun, ada pengamat yang menyatakan, pertarungan 2019 itu tampaknya bukan lagi Jokowi vs Prabowo, tetapi Jokowi vs tokoh lain.

Hal ini terjadi karena mulai banyak elite pendukung Prabowo pada 2014 dari kalangan nasionalis, yang kecewa pada manuver-manuver Prabowo. Mereka mulai menyadari kesalahan dukungannya pada Prabowo selama ini. Kesadaran dan rasa kecewa itu dinyatakan secara terang-terangan atau pun secara tersirat.

Mereka menilai, manuver-manuver Prabowo pasca 2014 lebih banyak menguntungkan kelompok-kelompok radikal kanan. Kelompok radikal kanan ini getol mengeksploitasi isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya. Ini adalah sesuatu yang tidak membikin nyaman kalangan nasionalis.

Masalahnya, jika pada tahap awal Prabowo seperti memegang kendali terhadap kelompok-kelompok radikal kanan ini, sekarang yang terjadi seperti sebaliknya. Seolah-olah kelompok radikal kanan ini jadi lebih dominan dalam menentukan agenda dan sikap politik Prabowo. Padahal, harapan kaum nasionalis dahulu, Prabowo dapat menarik kelompok-kelompok radikal kanan ini menjadi “lebih nasionalis” lewat pengaruhnya.

Mengomentari pola penyikapan Prabowo ini, ada yang mengatakan, kalau Prabowo ingin belajar agama Islam seharusnya Prabowo belajar ke ustad-ustad yang sudah jelas nasionalismenya. Bukan ke ustad-ustad yang dipertanyakan wawasan kebangsaannya. Tetapi kita tentu tidak bisa memundurkan jalannya roda waktu.

Kalau Prabowo (atau tokoh lain penggantinya) jadi bertarung melawan Jokowi di Pilpres 2019, kemungkinan yang terjadi adalah pertarungan antara tokoh nasionalis vs tokoh nasionalis, bukan tokoh nasionalis vs tokoh Islamis. Bedanya, sosok nasionalis yang pertama adalah nasionalis moderat, yang dalam penyikapannya berdasarkan nalar dan lebih rasional. Mereka dalam menyikapi sesuatu memahami teks, tetapi juga mempertimbangkan konteks.

Mereka tidak anti-Islam, fitnah yang serimg disematkan oleh kelompok-kelompok konservatif dan radikal kanan terhadap tokoh nasionalis moderat. Mereka justru mengapresiasi Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam menjadi bagian penting dari unsur pemersatu bangsa. Islam yang sejuk dan merangkul, bukan Islam yang dikerdilkan menjadi ideologi atau wahana pemecah-belah bangsa.

Sedangkan, sosok nasionalis yang satunya lagi adalah tipe nasionalis konservatif, yang kurang terbuka pada gagasan-gagasan baru. Hal ini karena mereka terpaku pada status quo, anggapan-anggapan yang sudah dianggap tetap, baku, dan seolah-olah tidak bisa diubah lagi (fixed). Mereka tidak terlalu peduli apakah itu rasional atau tidak. Dalam menyikapi sesuatu, mereka tekstualis. Maka, sosok semacam ini lebih bisa diterima oleh kelompok radikal kanan. [INC/zpc]

Gabung Di Grup Telegram. KIK DISINI
Loading...

Incoming search terms:

  • keislaman prabowo dipertanyakan

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Nasional

G+ Official

Trending

Politik

Khazanah

Hukum

To Top
%d blogger menyukai ini:
[KLIK 2X CLOSE]