Connect with us

Kisah Raziya Sultana, Pemimpin Muslim Wanita Pertama dari India yang Pemberani

Khazanah

Kisah Raziya Sultana, Pemimpin Muslim Wanita Pertama dari India yang Pemberani

ISLAMINEWS.com – SYAMS-AL-DIN Iltutmish memasuki istana Kesultanan Delhi sebagai seorang budak dari Turki. Beruntung ketika mati dia sudah menjadi seorang Sultan Delhi. Peristiwa itu dianggap sebagai indikasi awal, bahwa putrinya, Jalalat-Al-Din Raziya memang di ditakdirkan akan menjadi orang yang besar.

Pada 1236, Jalalat-Al-Din Raziya, yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai Raziya Sultan, naik tahta sebagai penguasa wanita pertama dari Kesultanan Delhi. Meski, ceritanya dianggap indah dalam budaya populer, kenyataannya tidak demikian. Lantas, bagaimana kisah Raziya bisa menjadi pemimpin perempuan pertama yang naik tahta dan sukses memimpin Kesultanan Delhi?

Dilansir dari Mvslim, Rabu (11/4/2018), sang ayah, ltutmish tiba di kesultanan Delhi sebagai budak Turki. Dia adalah budak kesayangan tuannya, Qutb Al-Din Aibak, Sultan pertama Delhi. Sebagai budak kesayangan ia dinikahkan dengan putri Sultan, Qutub Begum dan secara otomatis menjadi bagian dari keluarga sultan yang berkuasa kala itu. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra, Nasiruddin Mahmud dan seorang putri Jalalat-Al-Din Raziya. Ketika Raziya masih anak-anak, kakeknya Aibak meninggal dan ayahnya secara otomatis naik tahta menjadi Sultan Delhi kedua.

Pada tahun-tahun masa hidupnya, Sultan Iltutmish harus mengambil keputusan penting tentang siapakah yang akan naik tahta menggantikan posisinya untuk mengurus pemerintahan di kesultanan. Berdasarkan qabliyat (yaitu kemampuan), Iltutmish akan memilih putranya, Nasiruddin Mahmud, yang pada waktu itu juga memerintah sebagai gubernur Bengal. Namun, di bawah kondisi misterius, Nasiruddin Mahmud meninggal dan Iltutmish bingung akan menyerahkan tahta kepada siapa.

Saat itu tidak ada satu pun anak laki-laki yang lahir dari istrinya yang lain, kalau pun ada anak laki-laki itu belum cukup usia untuk menjadi sultan. Sementara, putrinya, Raziya, telah menunjukkan kemampuannya mengelola kesultanan. Ketika ayahnya pergi berbisnis atau kampanye, dia sudah bertanggung jawab sebagai bupati yang kompeten, meski saat itu masih dibantu oleh orang kepercayaan Sultan.

Raziya telah menjadi wanita yang terdidik, baik dalam pendidikan formal maupun secara ilmu Alquran. Selain itu, ia terampil dalam seni bela diri, maka tak heran jika sebagai prajurit dia cukup terlatih. Raziya juga mahir menunggang kuda dan gajah, prestasi lainnya juga banyak.

Singkat cerita, tanpa berkonsultasi dengan ulama (yaitu para ulama dalam hukum Islam), Iltutmish menunjuk putrinya Jalalat-Al-Din Raziya sebagai penggantinya, karena ia melihat bakat kepemimpian dan keberanian yang ada dalam diri sang putri. Setiap kali orang yang mempertanyakan keputusannya dia menjawab, “Anak-anakku terlahir spesial hanya sampai usia muda, dan tidak satu pun dari mereka bisa menjadi raja. Setelah kematianku, kalian akan menemukan bahwa tidak ada yang lebih kompeten memandu negeri ini daripada anak perempuan saya.” Dengan demikian, Iltutmish menjadi Sultan pertama yang menunjuk seorang wanita sebagai pewarisnya.

Sebagai seorang wanita, Raziya tidak mendapat dukungan penuh dari para bangsawan. Tetapi dia berhasil mengamankan kendali atas tahta yang dimiliki dan mengatasi pihak oposisi. Semasa memimpin, banyak bangsawan yang menentangnya. Tapi pada akhirnya, ia berhasil memimpin kerajaan itu dari yang sebelumnya sempat terpuruk. Raziya dapat memperluas kekuasaan kesultanan. Dengan membangun sistem jalan, dia bisa dengan mudah menginformasikan dirinya tentang urusan di bagian jauh kekaisaran. Dia menghubungkan kota-kota dengan desa-desa dan membangun benteng kecil sebagai pos penjagaan di sekitar rute kesultanan.

Selain itu, Raziya juga mendirikan sekolah, pusat pendidikan, pusat penelitian dan perpustakaan umum, di mana kedua naskah tradisi Islam dan Hindu ada di tempat yang sama. Hal itu menjadi satu dari banyak contoh yang menunjukkan bahwa Raziya berhasil menempatkan komunitas Muslim dan komunitas Hindu ada pada pijakan yang sama.

Raziya jelas merupakan pemimpin yang berbakti untuk bagi kekaisaran dan rakyatnya. Dia mendengarkan keluhan dan tuntutan rakya, mencoba untuk menempatkan dirinya sebagai penguasa yang adil, bukan penguasa yang acuh tak acuh.

Raziya juga memberi gelar pada dirinya sebagai Raziya Sultan, bukan Raziya Sultana, yang menekankan bahwa dirinya sama seperti pria yang menjadi sultan. Dia juga mengganti pakaian wanitanya dengan pakaian utama pria dan tunik, lalu melepas cadar dan mengendarai gajah tanpa purdah (yaitu menutupi wajah).   (iNews/okz)

Loading...

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah

Gabung Grup Telegram

Trending

Politik

Khazanah

Hukum

To Top
%d blogger menyukai ini: