Connect with us

Menohok! Begini Jawaban Telat Eggi Sudjana Soal Kritik Said Aqil Soal Aksi 212

Politik

Menohok! Begini Jawaban Telat Eggi Sudjana Soal Kritik Said Aqil Soal Aksi 212

ISLAMINEWS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyinggung soal Aksi 212 mulai dari persoalan salat Jumat, gerakan politik hingga pembiayaan gerakan 212. Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana menanggapi kembali pernyataan Said Aqil.

Terkait dengan salat Jumat di Aksi 212, Eggi menilai hal itu sah-sah saja. Menurutnya, salat Jumat bisa saja dilakukan selama tempat yang digunakan bersih dan suci.

“Soal salat, saya memang tidak ahli fiqih, jadi saya tidak mau menanggapi itu, karena bukan keahlian saya. Tapi pengetahuan kecil saya, yang namanya masjid itu namanya tempat sujud, nah seluruh bumi Allah itu bisa tempat sujud, kecuali di tempat yang diharamkan, sepeti di WC. Jadi mau di lapangan atau di mana-mana, sah-sah saja,” kata Eggi kepada detikcom, Selasa (10/4/2018).

Eggi juga mengatakan, persoalan lapangan bisa dijadikan untuk tempat salat Jumat juga masih diperdebatkan. “Jangan lupa bahwa ada paham Muhammadiyah dan lain-lain yang nggak sepaham dengan NU. Jadi jangan terjebak di situ,” katanya.

Terkait dengan Aksi 212 yang disebut Said Aqil sebagai gerakan politik, Eggi tidak membantahnya. Dia malah menegaskan bahwa Islam itu tidak bisa dilepaskan dari politik.

“Itu nggak ada masalah kalaupun iya. Karena Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik. Bagaimana bisa memisahkan ajaran Islam dengan politik? Karena bicara tentang imam identik dengan pemimpin. Untuk jadi pemimpin itu butuh kekuatan politk,” katanya.

Dia mengatakan, salah satu kekuatan politik itu adalah rakyat. “Dan Aksi 212 mampu mengumpulkan 7,4 juta orang. Siapa yang mampu mengumpulkan itu dalam satu event?” katanya.

Eggi juga mengatakan, penggantian kepemimpinan Nabi Muhammad SAW juga bernuansa politis. “Nabi Muhammad SAW itu Presiden loh, imam besar umat Islam seluruh dunnia. Penggantinya rasul empat khalifah itu dengab politkk. Jadi bagamana menuduh Islam tidak boleh dengan politik? Jangan keliru memahasi istilah poltik dengan Islam,” katanya.

Malah Eggi menuding Said lah yang jutsru terkesan politis. Pernyataan Said Aqil sarat dengan muatan politik.

“Omongan Said sendiri itu poiltik, dia mengatakan tidak boleh berpotlik itu adalah (bentuk) berpolitik,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan pernyataan Said Aqil yang mengaku tahu siapa ‘donatur’ aksi 212, Eggi meminta agar hal itu diungkapkan saja ke publik. Biar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Kalau dia tahu siapa yang biayain, diungkapkan dong. Diungkap nggak? Kalau tidak berarti dia nggak tahu. Nggak boleh menebar fitnah,” katanya.

Sebelumnya, Ketum PBNU Said Aqil Siroj mengaku mengalami masa krisis saat aksi 212 pada Desember 2016. Namun ia berhasil melewati masa-masa yang disebutnya sebagai ujian besar itu.

Hal itu diungkapkan Said Aqil saat menjadi keynote speaker dalam peluncuran dan diskusi buku ‘NU Penjaga NKRI’ di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

“Saya melewati masa krisis yang sangat luar biasa ketika 212. Betul-betul ujian yang besar. Alhamdulillah saya tidak bergeser sedikit pun,” ujar Said di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (10/4/2018).

Pada saat itu, Said Aqil menerima ancaman dan sekaligus rayuan untuk bergabung dengan aksi tersebut. Salah satunya, katanya, melaksanakan salat Jumat di Monas.

“Walaupun diancam atau dirayu, tidak sedikit pun kita bergeser menolak Jumatan di Monas. Satu, karena salat Jumat di Monas bukan salat, tapi politik. Kedua, saya tahu siapa di belakangnya yang biayain,” kata Said.

“Ketiga, dari daerah datang tidurnya di Masjid Istiqlal. Mereka ngompol, ngemper, ngeces di Masjid Istiqlal, pas wayahe salat meninggalkan masjid ke Monas. Coba aja njenengan, gereja untuk tidur, pas mau kebaktian di luar. Piye jal,” lanjutnya.   (iNews/dtk)

Gabung Di Grup Telegram<>. @T.ME/ISLAMINEWSCOM
Loading...

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Politik

Trending

Politik

Khazanah

Hukum

To Top
%d blogger menyukai ini:
[Close Klik 2X]